Bandung, 15 Oktober 2008.
Waktu menunjukan pukul 17.00. Hampir dua jam aku berada di café bernuansa Indonesia. Namanya “Ngopi Doeloe”. Gerimis yang datang satu jam lalu membuat suasana café terasa nyaman. Pohon rindang di sekitar café memanjakan mata minus empatku. Pengunjung selalu bertambah tiap jam-nya. Suara musik mengalun melontarkan lagu-lagu masa kini. Para pelayan berlalu-lalang menyiapkan pesanan si pengunjung. Kutarik nafas dalam-dalam. Udara sangat segar seperti pagi. Hampir empat tahun aku tak menjajakan kota kelahiranku ini. Dalam kurun waktu itu pula, aku seperti kehilangan kontak dengan teman-temanku disini.
Kuambil sebatang rokok. Lalu kubuat api dari korek yang disediakan café. Kuhisap dalam-dalam aroma tembakau ini. Sungguh nikmat. Seketika badanku terasa enteng. Pikiranku pun melayang serasa ingin pergi ke masa lalu. Ketika aku masih menjadi pelajar dengan segudang prestasi. Para sahabat yang selalu mendukungku, Guru-guruku semasa di SMA, dan sederet masa lalu lain, yang tiba-tiba datang dalam ingatanku.
Kupatahkan rokok ini ke asbak. Sudah cukup empat batang untuk hari ini. Aku masih duduk sendiri menikmati keadaan café. “Teh, ada yang mau dipesan lagi?”tegur si pelayan. Ah, mungkin ini pengusiran secara halus. Banyak pengunjung antri mendapat kursi. Tapi, aku masih ingin tetap disini. “Kopi susu ya Mbak,”pintaku. Si pelayan segera mencatat apa yang kupesan. Tak berapa lama ia pamit sambil berjanji akan membawakan pesananku secepatnya.
Untuk apa aku disini? Selama ini disini seperti menunggu seseorang, namun tak ada yang datang. Tapi itulah harapan. Hari ini, empat tahun yang lalu menjadi sebuah kisah baru dalam hidupku. Tanpa hari itu, aku tidak akan seperti sekarang. Mapan dan single. Kuambil telepon genggamku. Semua memori seperti foto, sms dari seseorang masih kusimpan dengan lengkap. Aku berharap ada suatu keajaiban datang mengulang keindahan masa laluku. Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Ingin rasanya merebahkan diri di sebuah kasur empuk di rumah Ambu. Ah, kuambil kembali sebatang rokok dalam tas kerjaku. Kututup foto-foto penuh cerita itu. Semakin mengingat, dada akan terasa semakin sesak.
Kopi susu yang kupesan datang. Ini adalah gelas ketiga yang kupesan. Kupandangi untuk kesekiankalinya para pengunjung yang datang. Rata-rata mereka datang dengan teman-teman, kekasih, atau rekan kerja. Dan aku? Aku datang sendiri sambil mengharapkan ada yang menemaniku. Sudah satu bulan aku disini sejak kepergianku ke Pariaman, Padang. Tugasku sudah usai. Kini saatnya aku kembali menata kota ini. Kota yang membesarkanku. Kutarik kembali nafas dalam-dalam. Sepertinya aktivitas ini membawa kenyamanan dalam tubuhku. Kunikmati kopi susu dalam sebuah cangkir warna putih di depanku. Ah, rasanya mengapa pahit. Rasa kopi menjadi sangat dominan. Seketika aku ingin berhadapan dengan si pelayan sekedar minta ditemui si pembuat kopi susu aneh ini. Tapi, ah aku merasa bosan disini kini.
Kuangkat tangan sambil mengedipkan mata pada si pelayan. “Bill-nya Mas,”pintaku. Si pelayan pun menganggukan kepala. Tak berapa lama, ia datang membawakan apa yang kuminta. Kutinggalkan uang selembar seratus ribuan tanpa mengharapkan kembalian sepuluh ribuan berlembar-lembar. Hujan telah reda. Saatnya aku melanglang menyusuri kota ini.
Tidak ada tujuan pasti aku hendak kemana. Toko buku? Restoran cepat saji? Atau distro? Semuanya menarik untuk kusinggahi. Apalagi, kata Ambu kota ini banyak perubahan. Hal ini membuatku semakin penasaran, apa yang berubah dari kota ini. Tapi, aku harus kemana? Tak ada pemandu yang membawaku kesana kemari sambil menjelaskan kenapa ini berubah. Akhirnya, kuputuskan untuk berjalan menyusuri Jalan Dipati Ukur. Mungkin aku akan bertemu teman lama disana. Sambil menyusuri jalan, kuambil Ipod di tasku. Berjalan sambil mendengarkan musik membuatku lebih santai dan meringankan bingung. Aku berhenti sejenak untuk memutar lagu. Mmm…. Aku ingin menciptakan tahun ini seperti empat tahun lalu. Kubuka folder lagu Maroon 5. Kupilih lagu “She Will be Loved”. Suasana Bandung semakin sejuk. Entah karena hatiku atau memang keadaan setelah hujan.
Tak terasa, kakiku sudah melangkah di seberang perpustakaan Universitas Padjadjaran. Bentuk gedungnya masih sama. Kupandangi gedung itu. Pikiranku melayang pada seseorang. Yah, seseorang yang kutunggu hingga kini. Seseorang yang membuatku kembali kesini. Seseorang yang masih kuharapkan meniti masa depan. Tapi, apakah ia masih menungguku? Kutarik nafas dalam-dalam. Dadaku terasa sesak. Mungkin jika aku berjalan bersama teman kini, aku bisa langsung mengutarakan curahan hatiku. Kuambil termos di tas. Air putih bisa meringankan penat dan gejolak hatiku kini. Kubalikan badan ke kiri sebanyak 90 derajat. Aku memutuskan untuk kembali berjalan.
Kulihat mobil berwarna putih bertuliskan Panghegar-Dago berhenti di depan kampus Unpad. Tanpa berpikir panjang, aku melangkah dengan cepat menghampir mobil itu bergabung dengan penumpang lainnya. Semua penumpang melihat ke arahku. Mobil ini terlalu penuh untuk ukuran angkutan umum. Agak risih jadi pusat perhatian. Sepatu boot-ku yang terlampau tinggi, membuat penampilanku jadi terlihat nyentrik. Ah, bukankah ini kota mode? Mengapa harus aneh melihat wanita ber-boot? Kupalingkan pandanganku keluar. Kupandangi situasi kampus Universitas Padjadajran Dipati Ukur. Tempat aku memperoleh gelar Sarjana Hukum. Tawa canda para mahasiswa terdengar dari dalam angkot yang kunaiki. Angkot pun berhenti hendak mengambil penumpang. Seorang gadis naik angkot ini. Wajahnya geulis seperti kebanyakan gadis Sunda lain. Kulitnya putih, rambutnya hitam, dan tubuhnya ramping. Ia duduk tepat di depanku. Ia lalu melemparkan senyum ke arahku. Seperti menyadari bahwa kehadirannya kuperhatikan. Aku pun membalas senyum manisnya. Angkot tetap berjalan. Kulirik gadis itu. Ia menatapku dengan penuh makna. Hei, apakah kita pernah mengenal sebelumnya? Tanyaku dalam hati. Kuabaikan tatapannya. Biarlah aku ingin menciptakan keingintahuan yang luar biasa darinya.
Mobil melangkah pelan menyusuri Jalan Dipati Ukur. Si gadis masih saja menatapku. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Aku mencoba untuk mengingat, mungkin saja kami pernah bertemu di suatu tempat. “Mc D…yang simpang,”kata si sopir. Suaranya mampu mengguyur pikiranku mengenai gadis itu. Aku memutuskan untuk turun disini. Kuambil uang lima ribuan dari dompet. Kuserahkan uang itu pada si sopir tanpa mengharap uang kembalian. Kulangkahkan kaki menuju Toko 24 jam. Suhu di Dago sejuk sekali karena baru saja hujan. Pandanganku beralih menuju pukul 2. Ada Mc Donald. Sepertinya ini menjadi tempat kedua bagiku untuk singgah. Aku langsung menyebrangi jalan. Bayangan “ice cream cone” tiba-tiba datang. Sepertinya ini menyenangkan. Sesampainya di rumah makan cepat saja itu, aku langsung memesan paket nasi serta ice cream cone. Ah, senangnya. Aku merasa kembali lagi menjadi mahasiswa. Kupilih bangku yang bertengger di pojok sisi kanan dekat pintu masuk rumah makan. Aku akan berlama-lama disini. Kuletakan tas di sebelah kursi yang kududuki. Perutku lapar, aku segera makan ayam goreng tepung tanpa cuci tangan. Hap..hap..hap…makanku lahap sekali. Pada suapan terakhir, seorang gadis berdiri di depanku. Kujilat tangan yang penuh minyak, lalu kutatap gadis itu. Dia yang kutemui di angkot tadi.
“Kita pernah bertemu?”tanyaku. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Kita memang belum pernah bertemu. Tapi, aku tahu banyak tentangmu,”katanya seolah menyimpan banyak rahasia. Tentangku? Apakah aku istimewa? Aku bukan penghibur terkenal langganan infotainment di televisi. Aku juga bukan politikus yang biasa klarifikasi di media. Dan aku juga bukan aktivis yang seringkali diwawancara. Lalu, “Boleh aku duduk?”tanyanya. Aku menganggukan kepala.
“Sudah makan?”tanyaku pada gadis itu. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. “Kupesan cheese burger untukmu ya,”kataku menawarkan. “Tak usah repot-repot,”jawabnya sambil menghentikan langkahku yang hendak menuju kasir. Aku tetap berjalan mengindahkannya. Mengeluarkan uang untuk orang yang tak dikenal tak apa. Uangku banyak. Aku pun percaya bahwa uangku tak akan habis.
Kuantarkan cheese burger ini ke meja tempat aku makan tadi. Si gadis masih duduk sambil menatap layar ponselnya. “Silahkan,”kataku. “Namaku Danisha, kamu bisa panggil aku Danish,”ujarku memperkenalkan diri. “Panggil aku Laila,”katanya.
Tatapannya penuh gairah. Sepertinya ia memang tahu banyak tentangku. Ia ingin bicara banyak. Ada beberapa hal penting yang ingin ia sampaikan padaku. “Ok, apa yang kamu tahu tentangku,”kataku tanpa basa-basi. Kulirik sebuah cheese burger yang baru saja kupesan. Ia tak menyentuh makanan itu sama sekali.
“Kamu bekerja di perusahaan minyak kelas dunia kan?”tanyanya. Deg…jantungku seolah ingin berhenti. “Dinasmu di Padang baru saja berakhir. Makanya kamu kembali kesini,”katanya lagi.
“Kita ada hubungan saudara?”tanyaku penasaran. Ia menggelengkan kepala. “Kamu kenal teman-temanku?”tanyaku lagi. Ia kembali menggelengkan kepala. “Aku baru beberapa bulan di kota ini. Baru kuliah semester satu. Masa kecilku dihabiskan di Balikpapan,”jawabnya. “Aku tak tahu teman-temanmu. Tapi aku tahu kamu,”jelasnya. “Bagaimana kamu tahu aku?”tanyaku. Ia hanya tersenyum penuh tanda Tanya. Aku pun jadi gemas olehnya. Ingin aku memaksanya untuk berkata jujur siapa dia sebenarnya.
“Hei, tak perlu cemas. Aku orang baik. Dan, tak perlu gemas juga. Aku ya aku, seperti yang kujelaskan padamu sebelumnya,”katanya. Hah..ia bisa membaca pikiranku. Sepertinya aku harus hati-hati padanya. Oh tidak, aku harus meninggalkannya sekarang. Kuambil tas dan berdiri hendak meninggalkan tempat ini, mencari persinggahanku yang lain. Mungkin yang duduk di depanku seorang iblis yang menjelma sebagai manusia.
“Tunggu,”katanya sambil mengangkat tangannya 90 derajat dari badannya. “Aku butuh teman bicara. Kamu tak perlu takut atau gelisah. Aku manusia biasa juga,”katanya sambil melahap cheese burger yang kupesan untuknya, seolah ingin membuktikan bahwa ia manusia yang bisa lapar.
“Untuk apa kamu menemuiku? Untuk apa kamu mencari tahu tentangku?”tanyaku padanya sambil meletakan kembali tas yang baru saja kubawa.
“Aku butuh teman ngobrol. Aku sulit berkomunikasi dengan orang-orang disini,”jelasnya.
Suaranya yang tiba-tiba melemah membuatku menjadi iba. “Kamu tahu dari mana tentangku?”
“Aku punya kemampuan untuk itu. Aku mampu melihat masa lampau dan masa depan seseorang. Tapi jangan takut, aku tak tahu secara detail. Yang tahu itu Cuma Tuhan,”jelasnya.
“Mengapa aku?”tanyaku penasaran karena tak habis pikir, beribu orang disini kenapa aku yang menjadi pilihannya.
“Wajahmu mirip kakaku yang meninggal satu tahun lalu. Sehingga aku tertarik untuk tahu lebih dalam tentangmu. Selain itu, aku merasa kamu menyimpan kerinduan yang mendalam. Hal ini sama seperti yang kurasakan kini. Aku rindu keluargaku di Balikpapan,”jelasnya. Kusentuh tangannya dengan senyuman kecil. Ia geger budaya. Dan aku memaklumi itu.
“Ya, aku merindukan seseorang,”jawabku. Aku memutuskan untuk menjadikannya teman curhatku saat ini. “Ia yang selalu mengisi hari-hariku delapan tahun yang lalu,”jelasku. Kutatap wajahnya. Ia tampak serius mendengarkanku bercerita.
“Lantas, kenapa kamu tak menemuinya hari ini?”tanyanya. “Entahlah. Tiba-tiba saja nyaliku tak sanggup menemuinya. Bahkan sekedar menatap wajahnya pun tak bisa,”jawabku.
“Kamu mau berbagi denganku?”tanyanya. Aku pun menganggukan kepala.
“Delapan tahun yang lalu, aku menjanlin suatu cerita asmara dengan teman sekelasku. Ia datang ke rumahku untuk menyatakan perasaanya. Jujur saja, aku senang saat itu. Ia yang kutunggu, akhirnya menyatakan cintanya. Ia yang kutunggu sejak aku duduk di bangku SMP akhirnya bertemu denganku di sebuah rumah tempatku dibesarkan,”jelasku. Tiba-tiba aku berhenti sejenak. Pikiranku melayang membayangkan wajah Rio yang tinggi besar berkulit putih. Pipinya tembem. Hidungnya mancung. Entah seperti apa perawakannya kini.
“Ia sangat mencintaimu,”kata Laila. Aku menganggukan kepala. Aku merasakan cintanya. Cinta yang tulus tanpa mengharapkan apa pun. Dan kini, aku kangen padanya.
“Selama kuliah, kami berpacaran. Kebetulan, kami satu jurusan. Jadi sering bertemu. Mengerjakan tugas bareng, datang dan pulang dari kampus pun demikian. Hingga teman-temanku bilang, kami adalah Galih dan Ratna,”kataku tertawa kecil sambil mengambil air mineral di depanku. Kutarik nafas dalam-dalam. Perasaanku gelisah. Rindu yang hebat datang setelah aku menceritakan hal ini pada Laila. Kuambil sebatang rokok. Kunyalakan korek api, flip..flip… dan terbentuklah sebuah asap dari mulutku. Kutatap wajah Laila. Agaknya ia kurang nyaman dengan asap rokok. Kumatikan rokok yang baru saja kuhirup. “Terganggu yah?”tanyaku. “Ini bisa membahayakan nyawamu!”jawabnya ketus. “Hei, kamu bukan malaikat penjagal nyawa!”ujarku menanggapi seolah tak mau kalah dengan gadis yang usianya jauh lebih muda dariku. Dasar anak kecil, kataku dalam hati.
“Baiklah, aku pergi,”katanya. Oh iya, dia mampu membaca pikiran orang. Ia pasti baru mendengar kata hatiku. “Oopps…tunggu dulu. Temani aku ya, mau kan?”ujarku menawarkan diri. Kini situasi berbalik. Aku menyadari bahwa aku butuh seseorang yang mendengar curahan hatiku. Ia pun duduk kembali, dan melontarkan senyum manisnya. “Kukira kamu orang sini,”kataku mencairkan suasana. “Orang tuaku memang lama tinggal disini. Namun, karena ayah harus bekerja di Balikpapan, kami sekeluarga pindah kesana sejak aku berumur 2 tahun,”jelasnya.
“Masih mau mendengar ceritaku?”tanyaku. ia menganggukan kepala. “Tahu tidak, pasti kamu kaget dulu semasa kuliah aku adalah gadis feminin yang patuh akan orang tua, setia pada pacar, dan komitmen akan tugas,”jelasku. “Aku tak kaget,”jawabnya singkat. Aku tertawa kecil menjawab pernyataan Laila. Yah, aku dulu seperti itu. Kesepianlah yang membuat aku berubah.
“Kami lulus empat tahun yang lalu. Kami punya cita-cita akan masa depan. Dan aku giat mencari uang selepas kuliah. Hingga pada akhirnya, sebuah perusahaan minyak kelas dunia membuka lowongan. Sudah lama aku mengincar perusahaan ini untuk mengais rezeki. Rio mendukungku. Tahapan tes aku lalui dengan baik. Hasilnya aku lulus. Senangnya bukan main. Keluargaku sampai mengadakan syukuran di rumah karena keberhasilanku itu. Dan Rio pun demikian,”jelasku. Air mataku tumpah. Ingatanku akan kejadian empat tahun lalu membuatku sesak. Lalila lalu menawarkan tisu untuk menyeka air mataku. “Jangan menangis. Rio sangat mencintaimu,”katanya lirih. Pernyataanya sedikit menghangatkan hatiku yang gundah.
“Saat pengangkatan pegawai, celakanya aku tidak ditempatkan di Bandung atau di Jakarta. Tapi di Padang. Kuceritakan hal ini pada Rio. Ia terkejut mendengarnya. Ia menyampaikan padaku bahwa ia tak mampu berpacaran jarak jauh. Ia pun menawarkan diri untuk menikahiku. Tapi, kakaku belum menikah. Sedangkan Ambu ingin kakaku menikah duluan. Harus urut menurutnya. Rio pun bimbang. Ia tak bisa meninggalkan usaha yang baru dirintisnya. Ia harus mengembalikan modal usaha di bank. Tapi, ia tak ingin meninggalkanku,”kataku.
Hari semakin sore. Langit sudah mulai gelap. Waktunya Magrib. Ceritaku masih panjang. Entah kapan selesainya. Mungkin jika aku menuliskan kisah ini, bisa menciptakan sebuah novel.
“Kamu ingin merokok?”Tanya Laila. Aku hanya tersenyum. “Merokoklah, aku tak apa,”katanya seolah maklum. Aku menggelengkan kepala. “Tak baik untuk kesehatan.”
“Kamu tahu, hingga kini Rio masih mencintaimu. Ia menunggumu karena ia janji padamu.”jelas Laila. Ya, aku merasakan demikian. Bayangan Rio selalu ada saat aku di Padang.
“Tapi, apakah ia masih mau menemuiku?”tanyaku penasaran. Mungkin saja Laila bisa membaca pikiran Rio. “Aku tak tahu. Jika kamu ingin menemuinya, temuilah,”jawabnya. Aku menghela nafas panjang. Sambil berharap Rio datang menemuiku sekarang.
Aku pun melanjutkan kisahku pada Laila. “Hubungan kami putus. Saat kuputuskan untuk pisah darinya, ia menangis. Ia bilang bahwa sampai kapanpun ia akan menungguku. Ia punya harapan untuk hidup denganku.”
“Lantas, apa reaksimu?”ujar Laila menanggapi. “Aku berjanji pada Rio bahwa aku akan kembali. Entah kapan. Dan aku ingin Rio menungguku hingga tugasku selesai,”jawabku. “Kenapa kamu memutuskan Rio dalam keadaan saling mencintai? Bukankah itu sungguh menyakitkan?”tanyanya lagi. “Ya, sangat menyakitkan. Tapi, aku harus memilih. Menikah dengan Rio tanpa restu orang tua, tetap di Bandung tapi belum mendapat kerjaan, atau mengikuti impianku untuk bekerja di perusahaan minyak. Dan Rio pun merelakanku untuk pergi tanpa menahanku sedikit pun. Ia hanya menangis. Ia sangat sayang padaku. Ia ingin aku bahagia mencapai impianku.”
“Kalau aku jadi kamu, aku tak akan bisa memilih. Walaupun aku menyadari, bahwa hidup itu pilihan. Aku salut padamu Karena kamu mampu memilih. Selama di Padang, kenapa kamu tak berkomunikasi dengannya?”Tanya Laila. Mataku melotot mendengar pertanyaannya. Bagaimana bisa ia tahu bahwa aku tak berkomunikasi dengan Rio saat berada di Padang. “Di tahun pertama, kami masih berhubungan walaupun kami putus. Dan, di tahun berikutnya Rio tak ada kabar. Nomor teleponnya pun tak bisa kuhubungi. Teman-teman Rio tak memberi tahu nomor telepon Rio yang baru saat kutanya. Belum lagi, tugasku bertambah banyak. Aku tak punya waktu untuk berkomunikasi. Jangankan dengan Rio, keluargaku pun di Bandung tak sempat kusentuh untuk sekedar berbicara dengan Ambu atau Abah,”jelasku.
“Temui Rio. kamu masih ingatkan rumah Rio?”kata Laila. Aku menganggukan kepala. “Hari ini kamu harus temui Rio,”katanya lagi.
“Besok saja. Aku ingin istirahat di kamar Ambu. Aku ingin pulang setelah ini,”kataku. “Sekarang Mbak. Kamu harus temui Rio,”katanya dengan nada yang semakin meninggi. Aku kaget mendengarnya. Laila berkata seolah ia tahu banyak mengenai apa yang terjadi dengan Rio. “Aku tak tahu banyak tentang Rio. Tapi kata hatiku bilang bahwa kamu harus menemui Rio malam ini juga,”jawab Laila atas pertanyaan kalbuku. Laila pun pamit pergi tanpa meninggalkan nomor yang bisa kuhubungi. Ia berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengucapkan terima kasih atas cheese burger yang kubelikan untuknya. Aku pun langsung bersiap diri pergi ke rumah Rio. Segenap asa tersimpan dalam hatiku, rasanya seperti sudah menggunung. Energiku pun sepertinya terkumpul lagi. Ego seakan terkalahkan oleh impian. Impian menjemput kamu. Si pria yang selalu ada di hatiku.
Kususuri jalan sepanjang dago. Bajuku terus tersibak hebusan angin. Dingin sekali disini. Tulangku serasa kaku menahan hawa dingin yang menyelimuti kota Bandung di Dago tepatnya. Di sisi kananku, sebuah toko kue Brownies yang sangat terkenal seakan memanggil. Yah, aku ingin membawakan brownies, kue kesukaan Rio. ia pasti senang, pikirku. Aku kembali terbang menuju khalayan. Kubawa sepotong brownies ini untuk Rio. Lalu, kami menyantapnya dalam piring dan sendok yang sama. Saling menyuapi. Sama seperti saat kami menonton film “Brownies” di rumahku. Suasana semakin romantis kala penerangan hanya dilakukan oleh beberapa lilin-lilin kecil. Tak ada listrik. Hingar binger suara penyiar radio pun tak ada. Semua sungguh hening. Hanya ada kita. Aku dan kamu.
Langkahku terhenti ketika toko kue itu ramai akan keberadaan sejumlah anak kecil dan orang tuanya. Ada pesta ulang tahun disini. Entah mengapa, kakiku seperti berat melangkahkan kaki kesana. Tak ada daya, tak ada juga keinginan. Walaupun pesta dilakukan di café, sisi kiri toko yang tak akan mengganggu si pemburu brownies. Kuurungkan kembali niatku. Agaknya, brownies tidaklah penting saat ini. Bukan brownies yang ditunggu Rio. Tapi aku.
Aku kembali berjalan menyusuri kota Dago. Sengaja kupilih jalan kaki menuju rumah Rio yang terletak di Cihampelas. Menikmati jalan Dago di malam hari merupakan pilihan yang tepat. Masih adakah roti bakar Madtari yang terletak di depan Bank di bawah jembatan cikapayang? Masih adakah factory outlet yang sering kali kusinggahi bersama Rio sekedar melihat baju-baju impianku? Hei, kini aku punya uang untuk membeli baju itu. Kamu tak perlu khawatir sayang. Aku kembali terpana saat jumlah factory outlet di Dago semakin banyak. Dago sudah sangat maju. Factory outlet pasti memberikan devisa besar bagi daerah.
Senyumku semakin mengembang tatkala aku sudah sampai di depan toko kue Kartika Sari Dago. Keadaanya masih sama, yakni banyak penjual bunga menawarkan jualannya pada mobill yang berhenti karena lampu merah. Terbesit keinginan untuk membelikan Rio bunga. Tapi, bukankah Rio yang seharusnya membelikannya untukku? Ah, tak apa. Ungkapan ini bukan milik pria semata. Aku pun memanggil gadis kecil si penjual bunga. Bahasa Sundaku masih sangat bagus saat menawar harga, walaupun logatnya sudah hampir hilang. Setangkai mawar putih kubeli, sebagai persembahan. Harum sekali wanginya. Semoga saja, Rio pun begitu.
Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Waktu menunjukan jam delapan malam. Aku tersontak kaget dibuatnya. Malam ini, aku mangkir dari janji tidur dengan Ambu. Ambu pasti sudah menungguku sejak sore. Kuambil ponsel dalam tasku, sekedar memberi kabar bahwa aku pulang malam pada Ambu. Kata Teteh, Ambu sudah tidur. Oke, berarti janji akan kulaksanakan esok malam. Ambu pasti tidak terlalu mengkhawatirkanku.
Badanku sudah mulai lelah. Bajuku basah oleh keringatku sendiri. Sepertinya aku tak mampu meraih rumah Rio dengan mengandalkan kaki yang bersarung boots ini. Aku memutuskan untuk naik angkot. Untunglah angkot yang kunaiki tidaklah penuh. Aku tak jadi perhatian seperti saat aku berada di angkot tadi sore. Kusenderkan bahu ini di kursi. Mataku sudah mulai lelah akan kontak lensa yang menutup retina minus empatku. Kutarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja keinginanku untuk bertemu Rio menurun. Aku seperti kehilangan daya. Di saat yang bersamaan, aku teringat akan Laila. Aku harus bertemu Rio hari ini sambil memberinya mawar putih yang baru kubeli.
Angkot berhenti di Pasteur. Disini aku harus beganti angkot. Sekali lagi, angkot menuju Cihampelas sangatlah sepi. Mungkin warga Bandung atau pendatang lebih nyaman jalan-jalan naik mobil pribadi. Hal ini sangat berlawanan dengan keadaan delapan tahun silam. Angkot selalu ramai penumpang.
Tibalah Cihampelas Walk. Rumah Rio tak jauh dari situ. Aku turun dari angkot dan mengeluarkan uang lima ribuan. Kali ini aku mengharapkan kembalian. Uang di dompet sudah mulai menipis. Jika tak ada uang, aku naik apa untuk pulang. Kulangkahkan kaki ke sebuah gang seberang Cihampelas Walk. Cihampelas masih seperti dulu. Jeans menjadi andalan para penjual disini. Toko bajunya pun tak banyak perubahan.
Tak terasa, aku sampai di sebuah rumah tipe 70 bergaya klasik. Rumah Rio masih sama. Tak ada renovasi sana-sini. Dari mulai pagar hingga warna cat masih sama saat kuputuskan hubungan kami. Suasana rumah sangat sepi. Tak ada mobil maupun motor parkir di bagasi. Kubuka pagar, sambil berharap ada yang mendenga. Kupencet bel yang terletak di depan pintu utama. Tak ada jawaban. Kupencet sekali lagi. Tak ada jawaban. Kutarik nafas dalam-dalam, semoga kali ini ada yang buka, harapku. Tak berapa lama terdengar kunci pintu. Terbukalah pintu utama itu.
“Bik yayah, apa kabar?”sapaku pada pengasuh Rio. Yang disapa kaget mendengar suaraku. “Ya ampun, neng Danish. Apa kabar? Kirain Bibik teh udah pergi, ga balik kesini lagi,”jawabnya. “Kabar baik atuh Bi. Abdi pasti balik ka Bandung. Bandung kan kelahiran Abdi,”kataku sambil tersenyum. “Iya…meni cantik pisan euy,”kata Bik yayah yang mampu membuatku gede rasa setengah mati. “Eh, masuk yu. Mau minum apah?”lanjutnya sambil memegang tanganku menggiring untuk masuk ke ruang tamu. Aku pun langsung duduk di sofa berkulit putih. “Gak usah repot-repot Bik. Abdi teh mau cari Rio,”kataku. Seketika wajah Bik Yayah berubah. Aku mengeritkan dahi. Kupandangi dinding ruang tamu. Ada yang berubah. Foto keluarga yang dulu berjumlah lima orang, kini sudah delapan orang. Abah dan Ambu Rio memangku seorang bayi perempuan.
“Neng, keluarga lagi ada acara di toko Kue Brownies Amanda Dago. Neng Danish lebih baik kesana sekarang yah. Jangan sampai telat. Jam 9 sudah bubar soalnya,”kata Bik Yayah. “Iya Bik. Oh ya, di foto itu istrinya A’Kabil yah? Itu anaknya?”kataku penasaran. “Bibik teu bisa ngomong banyak, lebih baik neng ke toko kue itu sekarang. Setengah jam lagi bakalan bubar,”jawab Bik Yayah sambil mendorong badanku keluar ruangan. “Ada apa siy Bik?”tanyaku penasaran. “Udah neng, mending sekarang pergi. Jam 9 udah pada bubar,”kata Bik Yayah. Aku pun keluar dengan sedikit kesal. “Jam 9 pada bubar neng, mending naik ojek dari sini,”teriak Bik yayah dari dalam. “Iya Bik,”sahutku.
Aku langsung bergegas memanggil ojeg. Tanpa melakukan tawar menawar, aku meminta si tukang ojeg membawaku ke Dago. “Ngebut ya kang,”pintaku. Si tukang ojeg hanya menganggukan kepala. Pikiranku campur aduk. Aku tak ingat lagi akan mawar putih yang kubelikan untuk Rio. Entah bagaimana bentuk si mawar putih. Mungkin tidak sesempurna saat kubeli tadi. Untunglah, lalu lintas bersahabat kali ini. Hanya 15 menit, kami sampai di tempat tujuan. Suasana tampak agak sepi. Tak seramai yang kulihat beberapa jam yang lalu. Tamu-tamu pun berpamitan pulang. Dengan cepat, aku langsung memberikan uang selembar sepuluh ribuan dan lima ribuan pada si tukang ojeg. Rambutku berantakan karena angin. Aroma parfum Paris Hilton pink sudah tak tercium lagi. Kuambil mawar putih yang kuletakan di tas. Bentuknya gepeng. Tapi, niatku untuk memberi mawar ini pada Rio cukup besar. Dengan setengah berlari, kuhampiri tempat pesta. Kumainkan bola mataku untuk mencari sosok Rio. Pandanganku terhenti saat melihat seorang pria berkaos merah sedang menggendong seorang anak berusia empat tahun.
“Rio,”teriakku. Rio langsung mengalihkan pandangannya ke suara yang memanggilnya. Aku melambaikan tangan. Kulihat seorang wanita berdiri disamping Rio dengan tatapan sinis. Rio lalu memberikan si gadis kecil yang baru saja digendongnya pada wanita itu dan menghampiriku.
“Hai, apa kabar?”sapa Rio. ia tampak kaku menyapaku. “Ehhhh….kabar baik. Ada acara apa yah ini?”tanyaku seperti orang yang salah tingkah. Rio pun menatap sekeliling café. “Kita ngobrol di dalam yu,” ajaknya. Kami pun berjalan menuju café. Rio tak sedikitpun menggandeng atau menyentuh tanganku sekedar memberikan kehangatan. Suasana hatiku tak karuan. Aku takut menerima berita buruk. Kamu masih sayang aku kan sayang? Kamu masih mengharapkan aku kan?
Rio mempersilahkanku duduk di sudut kanan café. “Sebentar yah, aku mau kesana,”katanya sambil menghampiri wanita itu dan orang tua Rio. Rio berbicara serius dengan mereka, ingin rasanya mendengar apa yang mereka bicarakan. Tak berapa lama, mereka pergi meninggalkan café menggunakan VW combi warnah hitam. Rio pun menghampiriku. Hanya ada aku dan dia di café ini. Ramah riuh beberapa jam yang lalu telah sirna. Sisi romantisme datang menghampiri kami berdua. Aku masih menyimpan asa, walau tak sepenuhnya mendukung kata hati.
Hampir lima menit kami diam. Aku menatap Rio dalam-dalam, sedangkan Rio hanya tertunduk lemas. Kuambil mawar putih yang sudah tak berbentuk itu dari dalam tas. “Ini buat kita,”kataku memecah keheningan. Rio langsung mengangkat kepalanya. Matanya merah. Kugenggam kedua tangannya. “Kamu kenapa?”tanyaku lirih. Ia hanya tersenyum. “Bagaimana karirmu? Impianmu?”katanya balik bertanya. “Alhamdulillah, karirku bagus. Karena itu aku bisa kembali bekerja disini di perusahaan yang sama. Aku diberi kebebasan untuk memilih lokasi kerja. Dan aku memilih kota ini,”jelasku. Aku menarik nafas panjang. “Dan…aku kembali menjemput impianku, hidup dengan kamu,”ujarku lagi sambil tersenyum, begitupun Rio.
“Aku sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hari ini hari ulang tahun anakku yang ke-tiga,”kata Rio dengan suara yang terdengar lirih. Seketika jantungku terasa berhenti. Aku menatap Rio dengan heran. “Kamu memutuskanku kan?”Tanya Rio. “Tapi kamu berjanji akan terus menungguku karena impian kamu hidup bareng aku,”kataku. “Maafkan aku,”kata Rio. “Bukankah komunikasi kita telah terputus? Bukankah kamu sudah tidak menginginkan aku lagi?”Tanya Rio lagi. “Aku mengirimkan surat setiap minggu buat kamu. Alat komunikasi tempatku bekerja tak bisa digunakan maksimal. Kamu pernah baca surat dariku kan? Surat dari Padang? Surat dari aku, Danisha, jawab Rio.” Rio hanya menggelengkan kepala. Air mataku tak tertahan lagi. Ia jatuh bagaikan hujan deras membasahi bumi. Rio menatapku dalam-dalam. “Kamu tambah cantik,”ujarnya sambil menyeka air mataku. “Tapi….kita tidak bisa bersama,”kata Rio lagi. “Satu yang perlu kamu tahu. Aku hingga saat ini masih sayang sama kamu,”ujarnya. “Kalau kamu masih sayang aku, kenapa kamu rela menikah dengan orang lain? Kamu bohong kan? Kamu bilang sama istri kamu bahwa kamu sayang sama dia. Kamu pembohong!”ujarku tak bisa menahan emosi. Pengakuan Rio tak mampu membuatku tenang. Justru aku semakin heran atas pengakuan itu. “Aku tidak bohong. Demi Tuhan aku sayang kamu. Karena tak ada komunikasi, kupikir kamu meninggalkanku,”tanggapan Rio. Bohong atau tidak, hatiku sudah sakit. Tanpa pamit, aku langsung meninggalkan tempat ini, meninggalkan Rio sendirian tanpa ingin tahu pengakuan apa lagi yang akan dia katakan. “Aku bahagia, kalau kamu bahagia,”kataku menutup pertemuan kami. Rio menahanku agar aku tetap disini. Sayangnya, egoku lebih berat daripada tangannya.
Aku terus melangkah meninggalkan toko kue itu. Berjalan pulang ke rumah Ambu menepati janji untuk tidur dengannya. Angin kembali menyentuh tubuhku yang kurus kering. Tak ada sedikitpun rasa bahagia ataupun lega telah bertemu Rio. Ini jawaban penantianku selama empat tahun. Langkahku terhenti. Kutatap kembali Rio yang sedang berjalan menuju mobil yang diparkir di toko itu. Perawakannya masih sama seperti dulu, namun tidak pada hatinya. Tak lagi mengharapkanku. Tak lagi kejutan brownies diakhir pekan. Kamu bukan punyaku lagi. Mobil Rio pun melaju meninggalkan toko itu dengan kecepatan tinggi. Aku pun menghindar dari tatapannya. Tak ingin Rio tahu bahwa aku masih mengharapkan cintanya entah sampai kapan.
Aku kembali berjalan menuju Antapani daerah rumahku. Tapi, ah tubuhku terasa lelah mencapai jalan belasan kilometer. Aku pun memutuskan untuk naik angkot kembali. Kali ini, uangnya tak cukup untuk ongkos. Di persimpangan jalan tepatnya di bawah jembatan cikapayang, seorang pengamen menyanyikan lagu “When you say Nothing at All”-nya Ronan Keating. Ah, lagu itu. Lagu yang dinyanyikan Rio dengan gitar saat mengutarakan perasaanya padaku tanggal 15 Oktober 2000….







