RSS Feed

Monthly Archives: October 2011

Perlu Kampanye Serius untuk Masyarakatkan Perbankan Syariah

Meningkatnya pertumbuhan perbankan syariah dari tahun ke tahun menyebabkan keberadaan perbankan syariah tidak lagi sebagai penggandeng bank-bank konvensional. Hal ini dibuktikan dengan tingginya pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia rata-rata hingga 60 persen pertahun. Karena itulah, dibutuhkan pemahaman yang tinggi pada masyarakat terhadap keberadaan perbankan syariah serta kesadaran tinggi dalam menggunakan berbagai produk perbankan syariah.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kampanye yang serius digarap demi memasyarakatkan perbankan syariah. Tentunya, sosialisasi perbankan syariah dilakukan tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai pihak yang terkait. Indonesia, memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan perbankan syariah maupun pengelolaan keuangan sesuai syariah. Tingginya pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia dapat meningkatkan pula kemakmuran masyarakatnya.

Pelan-pelan perbankan syariah mulai menanjak menunjukkan “gigi”nya. Sejak pertama kali hadir di Indonesia pada awal dekade 90-an, keberadaan perbankan syariah semakin diperhitungkan. Sistem keuangan berbasis ekonomi Islam yang didasari oleh hukum Islam, dimana mengharamkan sistem riba ini, tentunya menguntungkan bagi para investor maupun perekonomian kita. Tidak heran, hanya dalam waktu hampir sepuluh tahun, perbankan syariah sudah mampu menyaingi perbankan konvensional.

Berbagai upaya pun sudah dilakukan baik dari pemerintah maupun dari pihak yang terkait. Berbagai festival yang berbau syariah pun dilakukan demi memperkenalkan perbankan syariah ke mata masyarakat. Seminar, diskusi-diskusi pun tak luput dilakukan. Bahkan, kini sudah ada beberapa lembaga pendidikan yang memasukan kurikulum tentang syariah dalam perkuliahaannya. Selain itu, banyak pula situs-situs di internet khusus mengenai syariah. Bank-bank syariah pun sudah mulai mengiklankan diri di media-media dari media cetak, elektronik hingga online.

Dampaknya, masyarakat mulai melirik keberadaan perbankan syariah sebagai lahan yang subur untuk berinvestasi. Asuransi atau pun lembaga keuangan lainnya pun mulai menciptakan divisi syariah dalam perusahaannya. Hingga bermunculan kata “syariah” terangkai mengikuti nama bank, asuransi, atau pun lembaga keuangan lainnya.

Pesatnya pertumbuhan perbankan syariah pun tidaklah lepas dari banyaknya produk-produk perbankan syariah sendiri. Diantaranya, jasa untuk peminjaman dana maupun investasi. Selain itu, pengelolaan keuangan yang berbasis hukum Islam pun turut membantu membesarkan perbankan syariah di masyarakat. Tidak hanya pengelolaan keuangan yang baik, Undang-undang yang dikeluarkan pemerintah dalam menggalang perbankan syariah pun dirasa turut serta menjadikan keberadaan perbankan syariah sebagai bagian penting dalam industri perbankan di Indonesia. Peraturan BI Nomor 8/3/PBI/2006 tentang layanan syariah yang dapat dilakukan di kantor cabang konvensional, menyebabkan keberadaan perbankan syariah semakin mantap.

Sayangnya, Indonesia yang berpenduduk kurang lebih 238 juta orang yang sebagian besar beragama Islam ini, hanya sebagian kecil yang paham mengenai syariah. Padahal, jika kita menilik kembali pentingnya perbankan syariah sebagai penopang dalam perekonomian di Indonesia, sudah saatnya keberadaan perbankan syariah di Indonesia ini memasyarakat di kalangan kita. Jika begini, timbul pertanyaan siapakah yang harus bertanggung jawab?

Repost from http://www.niriah.com/opini/2id939.html

Personal Branding, Pentingkah?

‘Ah CV loe nggak menjual’
Itu adalah sepenggal kalimat yang terlontar dari teman saya tiga tahun lalu. Saat itu, saya baru mengalami transisi dari bangku kuliah ke dunia kerja. Berbagai lowongan pekerjaan yang sesuai dengan minat, saya lamar. Entah berapa perusahaan menerima tumpukan surat lamaran saya.


Mendengar perkataan teman yang kebetulan memiliki pengalaman kerja banyak tersebut , saya pun lalu membaca kembali resume yang saya buat. Saya pun bertanya pada beliau. apa yang salah dari resume saya tersebut. Kenapa ia menyebut resume saya tidak menjual? Memangnya resume itu produk?
Mendapat pertanyaan tersebut, teman saya menjelaskan bahwa saya tidak menonjolkan kelebihan saya. Oke, saya lihat kembali resume saya. Disana, saya menampilkan bahwa saya menang kontes kecantikan saat saya berusia 4 tahun lalu saya juga aktif berorganisasi sejak SD. Apakah itu kurang menjual? Ia menjawab ya. Menurutnya, kontes kecantikan yang saya tulis tidak perlu karena itu adalah kontes anak-anak dengan proses seleksi yang tidak bersifat global. Baiklah, penghargaan tersebut saya coret dari list. Kemudian organisasi. Saya memang menuliskan organisasi yang saya ikutkan hingga berlembar-lembar. Teman saya lalu bilang, tidak perlu menuliskan sebanyak itu. Karena si HRD pasti lelah membaca resume yang njelimet. Namanya juga resume, harus ringkas dong, jelasnya.
Saya pun lalu mengikuti saran teman saya itu. Saya menuliskan kelebihan, keahlian, dan minat saya dengan singkat dan jelas dalam resume. Tak berapa lama, saya pun akhirnya dipanggil beberapa perusahaan dari media hingga bank. Berbagai test masuk saya jalankan, pilihan jatuh pada perusahaan periklanan yang bergerak di bidang digital communication. Karena saya bekerja di perusahaan iklan, kata branding tidaklah asing bagi saya. Setiap hari, saya menjalankan tugas sebagai Account Executive dengan menggunakan kata tersebut sebagai senjata menaklukan calon klien.
Seiring berjalannya waktu, saya kian sering mendengar orang berbicara di forum mengenai personal branding. Ada seorang ahli online marketing mengemukakan personal branding dalam sebuah seminar, yakni kemampuan seseorang dalam menjadikan dirinya sebuah brand yang bernilai. Lalu ahli marketing lain berpendapat dalam blognya bahwa personal branding mutlak diperlukan demi ‘menjual’ diri ke perusahaan atau kolega.
Lagi-lagi menjual. Dan saya pun kembali teringat perkataan teman saya tadi. Saya pun mencoba menelaah sendiri arti personal branding. Bagi saya, personal branding adalah segala sesuatu yang dilakukan secara personal demi menarik perhatian dari lingkungannya. Caranya adalah dengan memiliki keahlian khusus yang mampu menarik beberapa orang untuk memperhatikan kita.
Di Indonesia, pekerja kreatif banyak jumlahnya. Tapi mengapa hanya beberapa saja yang saya ingat. Jika ingin belanja kaos distro, saya cukup pergi ke Bloop di tebet. Padahal, daerah tersebut banyak distro yang menjual kaos dengan kualitas dan design yang tidak kalah dari Bloop. Selanjutnya soal makanan. Saya gemar sekali makan pizza, namun yang selalu menempel dalam benak saya adalah merek pizza yang terkenal akan sensasi delight-nya. Begitu pun dengan penyanyi favorit. Saya suka musik jazz. Ada beberapa penyanyi beraliran jazz di Indonesia, tapi kenapa pesona Andien selalu menarik perhatian saya.
Baru-baru ini dunia ramai atas meninggalnya pencipta Apple. Dunia seolah kehilangan akan sosok Steve Jobs yang menurut sebagian orang mampu menerjemahkan kerumitan teknologi menjadi sesuatu yang simple. Padahal, menurut sebuah situs nasional terkenal, pengguna Blackberry lebih besar daripada pengguna i-phone di Indonesia. Hingga akhir tahun 2010 pun, pengguna Blackberry di Indonesia mencapai 2 juta lebih. Artinya, dengan angka yang sangat besar tersebut, Indonesia bisa didaulat menjadi Negara pengguna blackberry terbesar di dunia.
Namun, mengapa di Indonesia pamor Steve Jobs sangat kuat bila dibandingkan Michael Lazaridis si pencipta Blackberry? Apakah karena kekuatan brand Apple yang mampu memproduksi berbagai teknologi komunikasi berawalan ‘I’ tersebut mampu mempersingkat ruang dan waktu bagi sebagian masyarakat Indonesia?
Kini, saya bekerja di sebuah perusahaan energi terbesar di Indonesia. Budaya yang dibawa masing-masing pekerjanya pun beragam. Begitu pun keahlian yang dimiliki masing-masingnya. Untuk mencapai karir yang gemilang jelasalah berat. Saingannya tidak satu, dua, atau tiga orang, tapi puluhan bahkan ratusan. Saya pun kembali berpikir, bagaimana cara para Top Management meraih karir yang gemilang tadi. Setelah melakukan beberapa riset kecil melalui wawancara dan membaca profil mereka di media, inti jawabannya Cuma satu yakni personal branding. Mereka mampu memberikan nilai bagi dirinya agar terlihat seperti bunga di hutan belantara.

Saya pun memerhatikan rekan kerja disekeliling saya. Ada yang mampu bernyanyi, membawakan acara, menguasai teknik lobby, public speaking, hingga melakukan penelitian secara komprehensif. Semua atas dasar personal branding. Melihat keadaan demikian, saya pun terpacu berkaca ada apa yang menarik dari diri saya. Keahlian unik apa yang sekiranya orang jarang memiliki. Hingga tulisan ini dibuat, saya berada dalam kondisi masih mencari personal branding yang baik dalam diri. Saya takut terjebak akan suatu kepalsuan dibalik personal branding tadi. Yang penting, dalam mencari personal branding diri saya berusaha untuk jujur menerima kekurangan yang saya miliki serta menyukuri kelebihan yang saya punya. Setuju?

Mencetak SDM yang Berkualitas

* Judul Buku: Making The Giant Leap
* Pengarang: Stanley S Atmadja
* Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2009
* Jumlah halaman: 262
* Penulis Resensi: Meidina Arimbi

Setiap perusahaan pasti memiliki keinginan untuk maju dalam perjalanan bisnisnya. Adira Finance sebagai perusahaan yang memberikan jasa pembiayaan kendaraan, telah mengalami beberapa fase hingga pada akhirnya sampai pada pertumbuhan aset yang sangat menguntungkan. Apa rahasia dari kesuksesan tersebut? Stanley S Atmadja selaku Founder & CEO Adira Finance membagikan pengalamannya dalam memimpin sebuah perusahaan melalui sebuah buku yang ditulisnya sendiri, yang berjudul Making The Giant Leap.

Human sebagai penggerak suatu perusahaan merupakan faktor yang sangat penting. Hal ini bukanlah isapan jempol semata. Melalui bukunya, Stanley menjelaskan enam elemen yang membentuk sebuah lompatan besar dalam sebuah organisasi. Keenam elemen tersebut adalah Leader Driven Enterprise, Managing by Values, The Power of Team Strategy, People-Focused Execution, Winning Spirit, dan Human Empathy.

Sebagai buku panduan, buku ini menjabarkan satu demi satu elemen tersebut dalam sebuah bab yang terpisah. Stanley memberikan contoh-contoh konkret yang terjadi di Adira Finance dalam membangun sebuah tim yang solid. Misalnya, kampanye budaya perusahaan yang dilakukan dengan roadshow ke cabang-cabang. Kehadiran para CEO menurut Stanley dapat memberikan nafas terhadap nilai-nilai yang ada, sehingga dapat dimaknai dengan baik oleh karyawan.

Hal menarik lain yang ada di Adira Finance adalah terciptanya singkatan atau akronim yang dibuat oleh managemen untuk meningkatkan kualitas karyawan. Misalnya, ADIRA TOP, singkatan dari Advance, Discipline, Integrity, Reliable, Accountable, Teamwork, Obssesed, Professional. Singkatan-singkatan tersebut dapat dengan mudah diingat oleh karyawan dalam menjalankan tujuan organisasi. Ada pula CARE, singkatan dari Cekatan, Antusias, Ramah, dan Empati.

Selain singkatan, managemen juga melakukan sejumlah kegiatan yang bertujuan untuk memberikan motivasi bagi karyawan, khususnya di jajaran service paling bawah, yakni frontliner. Para frontliner diajak untuk berpartisipasi dalam kontes AFI (Adira Frontliner Idol).

Membaca judulnya, kita mungkin langsung membayangkan bahwa isi buku ini sangat serius dan membosankan. Kenyataannya tidak. Membaca buku ini tidak seperti membaca buku panduan pada umumnya, tapi lebih terasa membaca pengalaman seseorang dalam menjalankan perusahaan yang dipimpinnya. Bahasa yang digunakan sangat komunikatif.

Buku ini tidak hanya penting untuk dibaca oleh para direktur, tapi juga para karyawan bahkan mahasiswa yang ingin menambah pengetahuan mengenai human management sebagai penggerak roda perusahaan. Jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, buku ini juga bisa menjadi panduan dalam menata komunikasi intrapersonal. Tanpa harus membocorkan rahasia perusahaan dengan vulgar, buku ini sangat inspiratif dan menarik.

Re post form www.portalhr.com

review20100208132720_53_0

Cerita Mudik

Kalau Lebaran tiba, saya suka geli sendiri liat orang2 pada mudik. Umpel2an di buslah, keretalah, bahkan di airport pun rameee pisan. Saat itu saya sangat amat bersyukur karena menikmat Lebaran tanpa harus pusing beli2 tiket, urus duit, sampe cek website maskapai penerbangan biar dapet murah :D .

Tidak pernah terbayangkan oleh saya tentang ‘mudik’ dalam hidup saya. satu tahun yang lalu, saya masih berpikir bahwa saya tidak akan pernah merasakan yang namanya mudik. Ternyata…. saya merasakan mudik beneran. Cerita mudik saya bisa dibilang seru (menurut saya tapi ya). cerita berawal dari keinginan mudik saya ke Jakarta (saat itu saya tinggal di Balikpapan). Juni 2011 saya sudah repot cek tarif lebaran. Sangat menggiurkan sekali. Saya sudah mengecek harga tiket pesawat di bulan Juni, dengan rute Palembang-Jakarta PP total 500rb. Menggiurkan banget kan? saya lalu segera melakukan pembayaran via online. tapi, wkwkwkwk…saya baru inget, status saya masih OJT alias on job training. Kalo saya kabur masalah ginian, saya bakal kena hukuman. Jadilah saya batal beli tiket, huuuu
Juli 2011, saya sudah di Palembang. dengan keinginan pulang yang sangaaaaaaaaaaat kuat, saya pesan tiket ke Jakarta. Untuk balik ke Palembang di pending dulu, cari tiket termuraaaah. Alhamdulillah saya menjadi penumpang maskapai penerbangan terbaik di Indonesia (nari balet, saking senengnya).
Pada minggu ketiga Juli 2011, diam2 saya cek kembali tiket Jakarta-Palembang, daaaann yaayyy akhirnya dapat. Saya langsung ambil token di tas untuk melakukan transaksi online. Tapi…jreng…jreng…keinginan saya pulang ketahuan :( . Mau gak mau saya izin untuk itu, dan diizinkan :) ) . Saya pun melanjutkan transaksi. entah saking semangatnya atau apalah, transaksi statusnya failed :( . Padahal harga tiket sesuai budget. Saya lalu bersikeras untuk dapat kembali tiket itu entah bagaimana caranya. Keesokan harinya saya mengirimkan email pada maskapai penerbangan tersebut, dan hasilnya no respond, huhuhu…saya lalu menghubungi contact center maskapai, jawabannya sangat tidak memuaskan. sialnya, pulsa saya habis hampir 10rb krn pembicaraan yg tak membuahkan hasil dengan si CS yg cuma 3 menit (nangis darah:((( ).

Pada minggu kedua Agustus 2011, saya pasrah. Mungkin tiket itu bukan milik saya. saya pun beralih ke maskapai lain. Ternyata, harga yang ditawarkan sesuai budget, walalupun lebih mahal daripada maskapai dengan status failed tadi. Tapi, demi pulang, saya tetap pesan tiket itu. Sambil memesan tiket, saya pun iseng kembali mengirim email ke maskapain terbaik tadi untuk memroses transaksi saya yang gagal beberapa minggu lalu, tapi tetap tidak ada respond, hfffff…Lima menit kemudian, transaksi saya dengan si maskapai alternatif berhasil, akhirnya saya dapat tiket Palembang-Jakarta PP, senangnya…..

Satu minggu setelah itu, saya mendapat email konfirmasi dari maskapai terbaik tadi, ternyata transaksi saya yang failed itu akan diproses. Senangnya setengah matiiii…!! saya pun langsung menghubungi maskapai alternatif untuk membatalkan penerbangan, semoga saja uang yang sudah terbayar tidak banyak yang terpotong. Hasilnya, saya diminta untuk ke sales representative maskapai alternatif hari itu juga untuk proses pembatalan tiket. Yang membuat saya bersyukur adalah uang akan dikembalikan hanya dikurangi biaya administrasi 100rb. dan urusan pun selesai. Saya pun lalu melakukan transaksi dengan maskapai terbaik tadi, dan berhasil. Akhir kata saya bisa pulaaaanggg…!!!

Dari sini, pelajaran yang saya ambil adalah untuk bertemu dengan orang tua itu adalah sesuatu yang berharga. Kini saya bisa merasakan apa yang dirasakan teman saya yg berasal dari luar Jakarta. Yah, mudah2an penempatan kerja saya pada akhirnya tidak jauh dari keluarga.Semoga…

Everybody changes

23 November 2010, hidup saya kian berjalan bagai bola yang terus menggelinding tanpa tahu arah. Pada tanggal itu, saya menerima pengumuman bahwa saya menjadi salah satu peserta program Bimbingan Program Sarjana (BPS) di salah satu BUMN yang katanya terfavorit bagi pekerja di Indonesia. Satu kata yang saya ucapkan saat menerima kabar bahwa saya diterima–> Alhamdulillah…

BPS berlangsung selama 1 tahun. Selama satu tahun itu pula saya diberikan kesempatan tinggal di Pulau Borneo tepatnya Balipapan, dilanjutkan dengan Kota Palembang tepatnya di Plaju. Masing-masing selama 3 bulan. Ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Jujur, gara2 ini saya akhirnya merasakan naik pesawat terbang, hahahah. Sederhana, tapi berarti buat saya. Saat itu pula hidup saya berubah begitu cepat.Terutama dalam memahami orang lain. Dari job training ini saya belajar banyak bagaimana memahami karakter orang dari berbagai budaya. Saya juga belajar perilaku masyarakat setempat dimana saya tinggal. Jika saya cerita, mungkin blog ini akan habis berisikan curhat2an saya selama tinggal di luar pulau Jawa :) .

Intinya siy, setiap orang itu pasti berubah, ga ada siy tuntutan bahwa kita harus berubah, yang pasti karena perubahan itulah kita menjadi pribadi yang utuh (bingung yah :D ).. Well, there’s a will, there’s a way

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.