‘Ah CV loe nggak menjual’
Itu adalah sepenggal kalimat yang terlontar dari teman saya tiga tahun lalu. Saat itu, saya baru mengalami transisi dari bangku kuliah ke dunia kerja. Berbagai lowongan pekerjaan yang sesuai dengan minat, saya lamar. Entah berapa perusahaan menerima tumpukan surat lamaran saya.

Mendengar perkataan teman yang kebetulan memiliki pengalaman kerja banyak tersebut , saya pun lalu membaca kembali resume yang saya buat. Saya pun bertanya pada beliau. apa yang salah dari resume saya tersebut. Kenapa ia menyebut resume saya tidak menjual? Memangnya resume itu produk?
Mendapat pertanyaan tersebut, teman saya menjelaskan bahwa saya tidak menonjolkan kelebihan saya. Oke, saya lihat kembali resume saya. Disana, saya menampilkan bahwa saya menang kontes kecantikan saat saya berusia 4 tahun lalu saya juga aktif berorganisasi sejak SD. Apakah itu kurang menjual? Ia menjawab ya. Menurutnya, kontes kecantikan yang saya tulis tidak perlu karena itu adalah kontes anak-anak dengan proses seleksi yang tidak bersifat global. Baiklah, penghargaan tersebut saya coret dari list. Kemudian organisasi. Saya memang menuliskan organisasi yang saya ikutkan hingga berlembar-lembar. Teman saya lalu bilang, tidak perlu menuliskan sebanyak itu. Karena si HRD pasti lelah membaca resume yang njelimet. Namanya juga resume, harus ringkas dong, jelasnya.
Saya pun lalu mengikuti saran teman saya itu. Saya menuliskan kelebihan, keahlian, dan minat saya dengan singkat dan jelas dalam resume. Tak berapa lama, saya pun akhirnya dipanggil beberapa perusahaan dari media hingga bank. Berbagai test masuk saya jalankan, pilihan jatuh pada perusahaan periklanan yang bergerak di bidang digital communication. Karena saya bekerja di perusahaan iklan, kata branding tidaklah asing bagi saya. Setiap hari, saya menjalankan tugas sebagai Account Executive dengan menggunakan kata tersebut sebagai senjata menaklukan calon klien.
Seiring berjalannya waktu, saya kian sering mendengar orang berbicara di forum mengenai personal branding. Ada seorang ahli online marketing mengemukakan personal branding dalam sebuah seminar, yakni kemampuan seseorang dalam menjadikan dirinya sebuah brand yang bernilai. Lalu ahli marketing lain berpendapat dalam blognya bahwa personal branding mutlak diperlukan demi ‘menjual’ diri ke perusahaan atau kolega.
Lagi-lagi menjual. Dan saya pun kembali teringat perkataan teman saya tadi. Saya pun mencoba menelaah sendiri arti personal branding. Bagi saya, personal branding adalah segala sesuatu yang dilakukan secara personal demi menarik perhatian dari lingkungannya. Caranya adalah dengan memiliki keahlian khusus yang mampu menarik beberapa orang untuk memperhatikan kita.
Di Indonesia, pekerja kreatif banyak jumlahnya. Tapi mengapa hanya beberapa saja yang saya ingat. Jika ingin belanja kaos distro, saya cukup pergi ke Bloop di tebet. Padahal, daerah tersebut banyak distro yang menjual kaos dengan kualitas dan design yang tidak kalah dari Bloop. Selanjutnya soal makanan. Saya gemar sekali makan pizza, namun yang selalu menempel dalam benak saya adalah merek pizza yang terkenal akan sensasi delight-nya. Begitu pun dengan penyanyi favorit. Saya suka musik jazz. Ada beberapa penyanyi beraliran jazz di Indonesia, tapi kenapa pesona Andien selalu menarik perhatian saya.
Baru-baru ini dunia ramai atas meninggalnya pencipta Apple. Dunia seolah kehilangan akan sosok Steve Jobs yang menurut sebagian orang mampu menerjemahkan kerumitan teknologi menjadi sesuatu yang simple. Padahal, menurut sebuah situs nasional terkenal, pengguna Blackberry lebih besar daripada pengguna i-phone di Indonesia. Hingga akhir tahun 2010 pun, pengguna Blackberry di Indonesia mencapai 2 juta lebih. Artinya, dengan angka yang sangat besar tersebut, Indonesia bisa didaulat menjadi Negara pengguna blackberry terbesar di dunia.
Namun, mengapa di Indonesia pamor Steve Jobs sangat kuat bila dibandingkan Michael Lazaridis si pencipta Blackberry? Apakah karena kekuatan brand Apple yang mampu memproduksi berbagai teknologi komunikasi berawalan ‘I’ tersebut mampu mempersingkat ruang dan waktu bagi sebagian masyarakat Indonesia?
Kini, saya bekerja di sebuah perusahaan energi terbesar di Indonesia. Budaya yang dibawa masing-masing pekerjanya pun beragam. Begitu pun keahlian yang dimiliki masing-masingnya. Untuk mencapai karir yang gemilang jelasalah berat. Saingannya tidak satu, dua, atau tiga orang, tapi puluhan bahkan ratusan. Saya pun kembali berpikir, bagaimana cara para Top Management meraih karir yang gemilang tadi. Setelah melakukan beberapa riset kecil melalui wawancara dan membaca profil mereka di media, inti jawabannya Cuma satu yakni personal branding. Mereka mampu memberikan nilai bagi dirinya agar terlihat seperti bunga di hutan belantara.

Saya pun memerhatikan rekan kerja disekeliling saya. Ada yang mampu bernyanyi, membawakan acara, menguasai teknik lobby, public speaking, hingga melakukan penelitian secara komprehensif. Semua atas dasar personal branding. Melihat keadaan demikian, saya pun terpacu berkaca ada apa yang menarik dari diri saya. Keahlian unik apa yang sekiranya orang jarang memiliki. Hingga tulisan ini dibuat, saya berada dalam kondisi masih mencari personal branding yang baik dalam diri. Saya takut terjebak akan suatu kepalsuan dibalik personal branding tadi. Yang penting, dalam mencari personal branding diri saya berusaha untuk jujur menerima kekurangan yang saya miliki serta menyukuri kelebihan yang saya punya. Setuju?