2015, thank u for everything.. best family,good people, wonderful neighbours, best friends, nice colleagues, this year teaching me a lot 💋💋💋

2016, i’m welcoming you..

View on Path

Advertisements

Akhirnya tergoda juga liat mini video reuni AADC…
Dasarnya iklan ya..tp kemasannya baguuus bgt. Line benar2 paham bahwa skrg eranya komunikasi digital.Memperkenalkan fitur tanpa terkesan kampungan..
Kl dr segi konten,lumayan bagus.12 taun lalu saya msh berputih abu2 (ketaun deh ya umurnya berapee) dan 12 taun kemudian teman2 SMA sibuk meniti karir di perusahaan maupun keluarga.Sama persis seperti cerita di mini video itu…dan line berhasil buat saya,1 dr sekian ratusan ribu yg nonton video reuni AADC, untuk gabung di ‘find alumni’

View on Path

Hari ini, 1 tahun yg lalu telah berpulang Bapak kami H.Imam Ruseno Sutedjo bin Sutedjo Purwodibroto..

Sekedar mengenang..
Senin,28 Okt 2013
Bapak dalam kondisi sehat walafiat terjatuh dr ketinggian 3 m &lgsg mengenai batang otak. Pukul 16.50 wib, Bapak kembali ke Yang Kuasa. Hari itu bertepatan dgn Hari Pernikahan beliau dgn ibu yg ke-34 thn…yang sedih adalah saya tidak ada disamping Bapak didetik2 terakhirnya…rasanya campur aduk,2 minggu setelah melahirkan ditinggal Bapak…

Selamat istirahat Bapak..Bapak beruntung punya kami yg selalu mendoakanmu..

Jika berkenan,titip Al fatihah untuk Bapak kami…Allah akan membalas kebaikan kawan2 ♥♥♥ – with Dewi Arini

View on Path

Numb..

Tidak ada sesuatu yang sempurna…semua pasti ada celahnya. Sejak kecil saya sudah merancang seperti apa hidup saya 10,20,30…tahun mendatang.. tapii semuanya tidak seindah yg dibayangkan.
Dan saya percaya apapun kesulitan, pasti ada jalan..dan itu bisa mendewasakan kita…

Menciptakan Miniatur KPK di Kampus

Kamu pernah mendengar KPK? Saya yakin, hampir 75% jawab pernah mendengar KPK,  kepanjangan dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurut situs KPK, KPK sendiri merupakan lembaga independen yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun. Berarti, KPK memiliki hak otorisasi untuk melaksanakan tugasnya tanpa di bawah pengaruh lembaga ini atau kekuasaan si itu. Hal ini yang membuat KPK eksklusif di mata saya. Tidak banyak lembaga di Indonesia memiliki hak sedemikian bebas seperti yang dimiliki KPK.

Dalam 2 (dua) tahun terakhir, saya dikejutkan akan beberapa kasus korupsi yang terjadi di kalangan muda. Sebut saja Gayus Tambunan, yang tersandung kasus mafia Pajak. Tahun berikutnya ada kasus korupsi Wisma Atlet untuk Sea Games ke-26 di Jakabaring, Palembang, yang melibatkan Nazaruddin. Tidak hanya sampai disitu, kalangan muda pun dikagetkan kembali akan kasus korupsi Dhana Widyatmika pada 2012. Kasus korupsi yang melanda mantan pegawai Ditjen Pajak itu diduga telah merugikan Negara hingga sekitar Rp. 3,4 miliar. Sebuah angka yang bombastis menurut saya. Melihat tumpukan uang seratus juta pun, saya belum pernah, apalagi lebih dari satu miliar.

Sangat disayangkan sekali, apabila kita kaum muda yang mengagungkan reformasi Negara pada akhirnya terlena terhadap keberadaan uang. Hal inilah yang menimbulkan suatu keinginan melakukan pencegahan korupsi bagi kalangan muda, apabila saya menjadi Ketua KPK. Hal ini sesuai dengan salah satu tugas KPK yang tertuai dalam Undang-undang no. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi ayat 4 (empat), yakni KPK memiliki tugas untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi.

Mahasiswa Bebas Korupsi” merupakan program perventif korupsi dengan target Mahasiswa. Program ini merupakan KPK mini di lingkup kampus. Adapun rencana programnya sebagai berikut:

–          Mengadakan lomba bagi tiap kampus untuk menyelenggarakan suatu acara menarik (entah pentas seni, seminar, pemilihan Duta Anti Korupsi, dsb). Setiap kampus wajib mengirimkan proposal acara ke panitia.

–          Kampus yang terpilih wajib menyelenggarakan acara sesuai dengan proposal yang diajukan dengan syarat tanpa melakukan hal-hal yang mengarah pada korupsi seperti mark up biaya acara.

–          Agar program berjalan dengan baik, diperlukan penyidik sebagai “wasit” dalam penyelenggaraan acara kampus terpilih.

–          Yang bertindak sebagai penyidik dalam persiapan, penyelenggaraan, hingga paska penyelenggaraan acara tersebut adalah beberapa mahasiswa yang terpilih menjadi penyidik setelah melalui proses seleksi.

–          Calon penyidik terpilih akan dilatih oleh tim KPK mengenai bagaimana cara menjadi penyidik yang akurat, teliti, dan dapat dipertanggungjawabkan.

–          Disediakan hadiah menarik bagi penyidik terpilih dan kampus yang dinilai bersih dari unsur Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)

–          Di akhir program, seluruh peserta membuat petisi anti KKN yang ditandatangani bersama. Setiap peserta juga diwajibkan mempublikasikan kegiatan petisi melalui social medianya masing-masing.

Miniatur KPK ini menarik, karena terkandung nilai dalam program tersebut, diantaranya:

–          Mengasah kreatifitas mahasiswa dalam merancang acara yang bermanfaat bagi kampusnya pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

–          Melatih mahasiswa yang menjadi panitia untuk tidak melakukan hal-hal yang mengandung Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

–          Mendidik mahasiswa yang terpilih menjadi penyidik untuk menjadi investigator yang baik, yang nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

–          Mendidik mahasiswa selaku panitia acara untuk menggunakan dana yang telah diberikan seefisien mungkin.

Pada akhirnya, harapan dari program ini adalah membiasakan mahasiswa sebagai generasi penerus untuk melakukan segala hal tanpa mengandung unsur Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.  Karena korupsi itu ibarat virus, yang cepat sekali menyebar karena keinginan untuk menyenangkan diri dan golongan tertentu sangat besar.  Virus ini bisa dicegah sedini mungkin apabila pengobatannya tepat sasaran.

Menjemput Rezeki dengan 7 Cara

Membaca judul buku ‘7 keajaiban rezeki’ membuat saya amat sangat ingin membedah isi buku tersebut. Pasalnya,dlm sampul juga tertulis ‘Bonus Langsung Rp.1.350.000’,jadilah saya penasaran terhadap isi bukunya. Saya tidak terlalu percaya akan sesuatu yang instan. Saya juga tidak percaya akan ‘money game’ yang memberikan janji ‘kaya’ dengan cepat. Makanya hal tersebut menjadi suatu alasan kenapa saya ingin lebih jauh memahami isi buku itu.

Awal membaca,saya tidak berusaha memaknai Bagian awal,tapi saya lebih penasaran dengan daftar isi buku tersebut. Karena menurut saya,membaca daftar isi buku membuat saya dapat memahami paling tidak seperdelapan isi bukunya.

Setelah itu saya membalikan buku ke halaman belakang. Saya yakin,sebuah buku dengan label ‘best seller’ pasti memiliki testimoni buku ybs entah dari orang terkenal ataupun orang yang mendapatkan manfaat dari buku tsb. Ternyata benar saja. Kurang lebih 53 Testimoni dihadirkan dalam buku ini. Testimoninya pun bukan tentang isi buku namun pengalaman orang-orang dalam mengikuti seminar dengan pembicara si penulis itu sendiri. Satu kata saya lontarkan ‘WOW’,bahkan katanya ada yang usahanya langsung untung setelah mendapat “hidayah” dari si penulis.

Mengetahui hal tersebut,saya sudah mengira pasti salah satu keajaiban rezeki itu ada di sedekah. Karena saya memang mendapatkan manfaat dari sedekah itu,dan lagi ‘sedekah ala ustdaz Yusuf Mansyur’ sedang booming. Ah,itu sudah biasa berarti. Lagi-lagi sedekah. Toh semua orang juga tau pasti sumber kekayaan ada di sedekah.

Namun,label ‘best seller’ ini yang menurut saya harus dipertanggungjawabkan. Gak mungkin kan label ‘best seller’ tapii ternyata isi buku STD alias standar atau mungkin ini hanya salah satu strategi marketing dari penerbit seolah buku ini bagaikan bom yang sangat fenomenal :).

Atas dasar ‘harus dipertanggungjawabkan’ itulah akhirnya saya mau membuka halaman dan membaca kumpulan kertas demi kertas. Ada hal yang menarik disini. Dari segi tutur bahasa,sangat-sangat informal bahkan cenderung selengean. Kita seperti sedang mendengar seseorang bertutur di sebelah kita. Tidak seperti buku motivasi kebanyakan yang amat sangat menjunjung EYD. Sisi positifnya,saya jadi lebih mudah memahami isi bukunya (ini merupakan tujuan utama si penulis,Right?)

Kemudian dari segi isi. Dengan hati yang ringan,saya mengacungkan dua jempol tangan saya untuk buku ini. Ternyata,tidak hanya sedekah yang menjadi sumber keajaiban rezeki kita. Ada banyak hal,diantaranya…yaa banyak :).

Buku ini terbagi atas (lebih dari) 7 Bagian. Masing-masingnya menjelaskan ‘to do list’ yang wajib dilakukan dengan baik bagi pembaca yang ingin kaya sesuai ridho-Nya. Ketujuh cara tersebut diantaranya: mengenai sidik jari, yakni menuliskan kemenangan-kemenangan diri, selanjutnya sepasang bidadari. Bidadari yang dimaksudkan disini adalah bukan bidadari seperti dalam kisah dongeng Jaka Tarub. Melainkan ridho dari sepasang orang terdekat kita agar tujuan kita tercapai,yakni ridho orang tua dan pasangan. Maju ke bagian selanjutnya berjudul ‘Golongan Kanan’.Jujur dari ketujuh Bagian yang disuguhkan,saya paling terkesima di bagian ini. Terus terang,isinya sangat-sangat membuka mata si pembaca. Golongan kanan yang dimaksud dalam buku ini artinya orang-orang yang dominan otak kanan dan mampu untuk ACTion dalam mewujudkannya. Bagian ini juga menjelaskan bagaimana mimpi merupakan refleksi hidup kita di masa depan, very inspiring.

Selanjutnya masuk dalam Bagian ‘Simpul Perdagangan’,dijelaskan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki dibuka untuk pengusaha. Berikutnya adalah ‘Perisai Langit’nah bagian ini adalah dugaan saya terhadap isi buku tsb,yakni penjelasan sedekah dan manfaatnya.

Setelah ‘Golongan Kanan’ yang menjadi Bagian favorit saya adalah ‘Pembeda Abadi’.Ini yang membuat saya ‘melek’ :D. Bagian ini menjelaskan bahwa agar nama kita dikenal dan abadi,kita harus meningkatkan hal yang membuat kita ‘beda’ dr orang kebanyakan, dengan kata lain harus mempunyai value. Ibaratnya kita adalah sebuah merk yang harus mampu diingat oleh rekan kerja,saudara,dsb. Paling tidak,Bagian ini membuka mata saya untuk fokus terhadap apa yang saya suka dan menemukan ‘passion’. Bagian penjelasan dari 7 keajaiban rezeki yang terakhir adalah ikhtiar. Biar bagaimanapun,segala teori tidak akan patah jika kita tidak ‘Action’.

Tiada gading yang tak retak. Saya dikejutkan dengan keberadaan testimoni mengenai buku ’10 jurus terlarang’ dan ’13 wasiat terlarang’ serta apresiasi karya lain dengan penulis yang sama. Mungkin akan lebih baik jika testimoni tersebut tidak disampaikan dalam buku 7 Keajaiban Rezeki. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak perlu:

1. Terlalu banyak tetimoni yang dihasilkan,memerlukan kumpulan kertas yang tidak sedikit. Akibatnya,berat buku menjadi bertambah,bukan tidak mungkin jika kita mau mengirimkan buku ini sebagai hadiah (seperti si penulis buku anjurkan) menjadi mahal.

2. Jika memang untuk tujuan promosi,akan terasa kurang efektif. Terus terang,setelah membaca testimoni mengenai 2 buku tersebut,perasaan saya ‘flat’ alias biasaaa ajaaa,ga terlalu pengen baca maksudnya :D.

3. Testimoni kebanyakan dari orang yang tidak saya kenal. Seperti ‘Nazif, Pengusaha Kuliner,Pekanbaru’. Saya malah sempat berpikir,kalau saya buat buku,tulis saja orang2 fiksi bak dia pembaca yang mendapat manfaat dari buku saya.

 

Over all,saya suka membaca buku ini. Dari sejarah saya membaca buku,saya paling cepat membaca buku ini,hanya 4 jam :D. Bukan karena terburu-buru,tapi karena buku ini terlalu sayang untuk saya lewatkan tiap menitnya.

 

Bravo Bang Ippho “Right” 🙂

 

Refleksi dalam Satu Tahun

Hampir 1 tahun saya menempati posisi di tempat saya bekerja. Tapi sayang,penggalian pengalaman yg saya dapat sangat sangat sedikit. Sedih itu pasti. Buat apa di tempat itu jika hanya sedikit pelajaran dan kontribusi yang saya dapat. Rasanya seperti memiliki tangan satu,hanya sedikit manfaatnya.

Namun saya harus bersyukur. Setidaknya walaupun kondisi saya (mungkin) bisa buat saya stres bukan kepalang,saya diberikan kesempatan untuk bekerja di kota kelahiran dan dekat dengan keluarga. Setidaknya setelah melewati jam kantor saya mendapatkan hidup saya kembali.

Hampir 4 tahun saya bekerja secara professional dalam artian bukan magang,PKL,atau sejenisnya. Dalam kurun waktu itu pula,saya sedikit memerhatikan bahwa budaya kerja itu sangat sangat berpengaruh pada kinerja kita, bahkan bisa memengaruhi karakter kita. Syukur-syukur pengaruhnya positif,jika tidak?

Saya belajar bahwa ‘fair’ itu sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Apalagi ketika berhubungan dengan partner kerja. Menjelekan partner lain dengan langsung men-judge buruk kompetensi rekannya adalah hal yang tidak dewasa menurut saya.

Saya juga merasakan betapa rendahnya rasa saling memahami disaat orang lain mengerjakan apa yang menjadi job desk-nya namun di sisi lain ada partner yang seolah merebut job desknya itu karena merasa mampu.

Manusia itu makhluk sosial,dan itu hukum alam yang memang tak terlihat jelas kapan pertama kali dideklarasikan. Setidaknya kalau saya,kamu, Anda atau siapapun  memahami sedikit filosofi ‘makhluk sosial’itu,suasana menjadi harmonis.

Sayang sekali jika kita pintar secara otak kiri tapi lemah empatinya. Sayang sekali jika punya ambisi bagus tapi harus mengorbankan orang lain. Sayang sekali jika memiliki kemampuan, namun Anda khawatir keberadaan partner menjadi lawan.

Lagi-lagi tentang budaya. Apakah karakter demikian menjadi budaya di perusahaan ini? Apakah kondisi ini memang terjadi secara turun menurun? Kalau memang ya…saya harus menyiapkan amunisi sabar yang banyak serta keteguhan hati supaya budaya ini bisa berhenti di bagian saya dan generasi selanjutnya. Semogaa…